MERAPI TAK PERNAH INGKAR JANJI
Liburan datang kembali kawan! Yeeee…..
Seperti biasa setiap ada hari libur, saya dan kawan-kawan merencanakan untuk menjajal adrenalin yang berbeda. Kali ini kami ingin menjajal salah satu gunung teraktif di Indonesia. Kalian tahu itu di mana? Yups…kalo kalian menjawab Gunung Merapi kalian benar sekali. Kebetulan kami sudah lama tidak mengunjungi salah satu gunung yang dahulunya dijaga oleh Mbah Marijan itu.
Hari Sabtu (12 September 2015) seperti biasa kami berkumpul di rumah Adik untuk mengecek kembali perlengkapan mendaki kami dan menunggu teman yang lain. Pendakian kali ini cukup sepi, karena kami hanya mendaki berlima; saya, Adik, Mas Eko, Mas Yanto, dan Bara Yanu. Setelah dirasa perlengkapan kami lengkap dan teman-teman siap, kami bergegas untuk berangkat menuju basecamp Barameru.
Kami berangkat pukul satu siang dengan menggunakan sepeda motor masing-masing. Dari rumah Adik di Kalinegoro, Kab. Magelang kami menyusuri jalan raya menuju arah Ketep Pass. Sebelum mencapai Ketep Pass terdapat percabangan jalan, kalau mengambil arah lurus akan sampai ke Ketep Pass sedangkan kami mengambil arah ke kanan yang menuju air terjun Kedung Kayang. Dari sana kami terus menyusuri jalan hingga sampai di Desa Selo, Kabupaten Boyolali.
Setibanya di basecamp Barameru, kami langsung melakukan registrasi. Kami membayar retribusi sebesar enambelas ribu rupiah dan lima ribu untuk penitipan sepeda motor. Saat registrasi kami juga diharuskan untuk meninggalkan KTP perwakilan dari rombongan, kali ini KTP saya yang ditinggal. Selain meninggalkan KTP, kami juga diwajibkan untuk menuliskan barang bawaan. Setelah registrasi, kami memutuskan untuk beristirahat sebentar sebelum melakukan pendakian.
Merasa cukup dengan istirahat, saya dan kawan-kawan memutuskan untuk memulai pendakian. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore saat kami mengawali pendakian. Perjalanan awal, kami disambut dengan track aspal yang lumayan menanjak. Track ini bisa dijadikan sebagai pemanasan terlebih dahulu. Perjalanan awal ini menuju tulisan New Selo. Selepas dari sana, track masih sama. Track baru berubah saat sudah beberapa saat kami berjalan, track berganti menjadi cor block atau semen padat. Pemandangan disisi kanan kiri perjalanan kami merupakan lahan perkebunan penduduk.
Track kemudian berganti menjadi tanah keras dengan sedikit berbatu dan mulai menanjak. Pemandangan di kiri kanan jalan didominasi dengan pohon-pohon seperti cemara dan pinus. Perjalanan pun kami lanjutkan sampai menemukan shelter bayangan yang pertama. Shelter ini berupa gubuk permanen dari kayu yang beratapkan genteng, shelter ini cukup luas yang bisa digunakan untuk beristirahat beberapa orang. Di shelter ini kami tidak beristirahat karena perjalanan baru saja kami lakukan.
Sebentar rasanya kami berjalan, tapi kami sudah menemukan kembali shelter serupa. Di shelter ini kami memutuskan untuk beristirahat sebentar, baru juga kami menikmati rasanya duduk santai hujan turun. Hujan turun kali ini cukup deras, akhirnya kami memutuskan untuk menunggu hingga hujan sedikit reda.
Lama kami menunggu hujan tak juga reda, akhirnya dengan terpaksa kami menerjang hujan. Berbekal dengan rain coat yang sudah melekat di badan, kami menyusuri jalan yang diguyur air hingga mencapai Pos 1.
Sesampainya di Pos 1 kami beristirahat sejenak sambil menjalankan kewajiban. Perjalanan dari basecamp sampai Pos 1 kami tempuh selama satu setengah jam. Selesai melepas lelah, kami memutuskan untuk kembali meneruskan perjalanan menuju Pos 2. Kebetulan juga hujan sudah berhenti turun, hanya menyisakan kabut yang mulai turun.
Track menuju Pos 2 didominasi dengan bebatuan meski terdapat pula jalur tanah dengan tanjakan terjal tanpa ada bonus. Bebatuan yang berada disepanjang jalur track ini rawan bergeser dan bukan batuan permanen, sehingga apabila kita tidak berhati-hati kita akan jatuh terpeleset. Di jalur ini juga, kening saya harus berkenalan dengan ranting pohon yang menjulur dibadan jalan. Saya waktu itu terlalu fokus memperhatikan jalan, sehingga kurang memperhatikan keadaan sekeliling. Beruntung luka dikening saya tidak parah, hanya sedikit panas saja. Beruntungnya lagi saya membawa obat untuk mencegah radang dan mengobati memar. Setelah beristirahat sejenak akibat insiden yang menimpa saya, akhirnya kami memutuskan meneruskan kembali perjalanan yang tertunda.
Belum juga berjalan jauh, Adik terpeleset. Terpelesetnya Adik kali ini benar-benar tidak tertolong, dua pijakan yang dia pilih ternyata goyah dan terjatuh ke bawah. Adik tidak mampu untuk menahan berat badannya pun akhirnya jatuh tengkurap dan merosot ke bawah. Tubuh Adik mengenai kaki Bara yang ternyata berada di belakangnya, karena tidak siap Bara juga ikut terjatuh. Beruntung tubuh Bara dapat menahan berat tubuhnya dan tubung Adik yang menghimpitnya. Jika tidak bisa dipastikan tubuh mereka akan cidera parah, sebab di belakangnya banyak batuan yang relative besar yang dapat menimbulkan cidera serius.
Setelah insiden jatuhnya Adik dan Bara yang beruntungnya tidak mengalami luka, kami memutuskan kembali beristirahat. Dirasa Adik dan Bara sudah siap kembali untuk berjalan, kami memutuskan untuk kembali berjalan.
Setelah beberapa saat mereka berjalan, saya dan kawan-kawan sampai di Pos 2. Kami memutuskan beristirahat sejenak untuk sekedar melepas lelah. Saat waktu istirahat cukup, kami melanjutkan perjalanan kembali menuju Pasar Bubrah.
Track yang kami lalui selanjutnya berupa batuan yang semakin menanjak terjal. Bahkan dalam perjalanan kami juga menjumpai batu-batuan besar. Bahkan ada pula batu besar yang menghalangi jalur, kami harus berusaha untuk melewati batu itu. Kami juga terpaksa menggunakan tangan sebagai tumpuan untuk bisa menaklukan track berbatu terjal menanjak itu. Beruntung sedari meninggalkan Pos 2 kami sudah menggunakan kaos tangan.
Beberapa saat kemudian kami menemukan jalur yang lebih mendatar. Areal ini berupa lahan agak datar yang terdapat banyak kerikil. Disekitar jalur ini juga masih terdapat vegetasi tumbuhan. Biasanya beberapa pendaki memang lebih memilih membangun tenda disini, karena aman dari terpaan angin.
Setelah melewati jalur itu kami menuju Pasar Bubrah yang hanya tinggal beberapa saat lagi. Track menuju Pasar Bubrah didominasi dengan bebatuan dan pasir. Sesampainya di Pasar Bubrah kami disambut dengan papan bertuliskan “Pasar Bubrah” yang dibawahnya terdapat memoriam. Pasar Bubrah merupakann areal luas yang berada tepat di kaki puncak Gunung Merapi. Pasar Bubrah berupa tanah berpasir dan tandus, areal ini juga banyak ditemukan batuan yang agak besar.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, karena udara yang semakin dingin dan angin menerpa juga semakin kencang kami memutuskan untuk segera membangun tenda. Kami membangun dua tenda, tenda kabin empat untuk teman-teman laki-laki dan kabin dua untuk saya.
Selesai membangun tenda kami mengisi perut yang sudah sedari tadi bernyanyi. Roti dan cokelat panas menjadi pilihan kami sebagai penganjal perut. Usai perut terisi, kami semua memutuskan masuk ke dalam tenda.
Saya yang berada sendirian di tenda mulai kesulitan untuk tidur. Angin di luar bertiup sangat kencang, saya bahkan mulai khawatir akan terjadi badai. Tetapi kekhawatiran saya kalah dengan rasa lelah, saya mulai jatuh tertidur juga.
Pagi harinya saya bangun karena merasa udara dingin yang menyapa tubuh saya. Saya akhirnya terbangun dan menjalankan kewajiban. Tak ingin melewatkan pemandangan Pasar Bubrah di pagi hari saya bergegas untuk keluar tenda. Beruntung matahari belum menyapa. Saya keluar tenda bersamaan dengan teman-teman juga. Kami akhirnya menunggu sang surya kembali dari peraduannya.
Tak berapa lama yang kami tunggu sedikit demi sedikit memperlihatkan wujudnya, menghiasi langit dan menambah indah suasana pagi. Diawali dengan munculnya semburat warna jingga yang menghiasi langit di ufuk timur. Kemudian sang mentari sedikit demi sedikit muncul dari peraduannya. Warna jingga di langit perlahan-lahan digantikan dengan pendar cahaya sang mentari. Bersama mentari yang kembali dari peraduannya muncul pula kumpulan awan-awan menambah keindahan suasana langit.
Saya dan kawan-kawan pun mengabadikan moment itu dengan kamera masing-masing. Puas mengabadikan moment, kami kembali menikmati indahnya pagi dengan suasana yang hening. Masing-masing dari kami mensyukuri kesempatan yang diberikan Tuhan untuk menikmati keindahan ciptaan-Nya. Kesempatan yang belum tentu datang untuk kedua kali, itulah sebabnya kami suka mengabadikan moment yang mereka lalui. Bukan hanya untuk mengisi koleksi di sosial media, tapi untuk kenang-kenangan. Setidaknya saat kami sudah tidak sanggup untuk berjalan kelak, kami masih mempunyai kebanggaan dan menambah rasa syukur. Masa muda sudah kami lalui dengan banyak perjalanan.
Pemandangan di Pasar Bubrah yang kami nikmati sekarang benar-benar indah. Rasanya bukan berada di bumi, tetapi di planet lain. Jika kalian pernah menonton film Interstellar, landskap planet asing seperti Planet Miller mirip sekali dengan Pasar Bubrah. Kalau kalian belum tahu, film ini tentang usaha manusia mencari planet yang mungkin dijadikan tempat tinggal yang baru, soalnya bumi sudah tidak layak huni. Misi astronotnya harus mengecek tiga planet, salah satunya Miller itu. Saya bilang sih landskap nya mirip Pasar Bubrah ini.
Puas menikmati pemandangan, kami memutuskan memasak untuk sarapan kami. Kami hanya memasak yang simple saja; mie goreng, telur dadar, roti isi, goreng nugget. Selesai memasak kami langsung menyantapnya. Saat perut sudah kenyang dan hati senang, kami memutuskan untuk membongkar tenda dan packing barang-barang.
Pada saat sudah packing, kami memutuskan untuk segera kembali ke basecamp. Perjalanan yang kami lalui untuk sampai ke basecamp tidak bisa dibilang mudah. Jalanan berbatu dengan turunan yang lumayan terjal mengharuskan kami untuk berhati-hati, karena salah sedikit saja memilih pijakan kami dipastikan akan terpeleset. Hanya saja perjalanan menuju basecamp ini tidak diwarnai dengan aksi terjatuh dan terpeleset. Masing-masing dari kami fokus memperhatikan jalan yang akan kami lalui. Sesampainya di basecamp kami membersihkan diri dan istirahat makan siang. Selesai semuanya, kami memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing.
Tulisan New Selo
Perjalanan Kembali Ke Basecamp Part. 1
Perjalanan Kembali Ke Basecamp Part. 2
Pemandangan Puncak Merapi dari Pasar Bubrah
Sunrise Di Pasar Bubrah Part 2
Sunrise Di Pasar Bubrah Part


Komentar
Posting Komentar